Monday, July 8, 2019

Bersabarlah. seburuk apapun istrimu, itu lah jodoh yang telah  Allah tetapkan untukmu. Harus sabar ikhlas pengertian dan lemah lembut. Boleh jadi di balik kekurangannya ada hikmah yang terkandung didalamnya untuk mengangkat derajatmu. Supaya engkau bisa belajar sabar belajar lemah lembut dan bisa menerima keadaan. Lagipula setelah menikah, istrimu itu tanggung jawab mu, baik dan buruk nya itu tergantung bagaimana kamu mengaturnya, membimbing nya. Allah takkan menguji hamba nya di luar batas kemampuannya. Kalo engkau merasa bebanmu terlalu berat, berarti ada kemampuan besar yang Allah berikan padamu untuk kamu mengangkat beban itu. Boleh jadi engkau membenci sesuatu padahal itu baik bagimu, boleh jadi engkau menyukai sesuatu padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui segala sesuatu, sedangkan engkau tidak. Selalu ingat kelebihannya jangan mencari kelemahannya, gak bermanfaat.

Dalam kultum, ustadz berkata bahwa ada beberapa *tipe keluarga* di dunia ini:

1. Tipe keluarga *Nabi Nuh* dan *Nabi Luth*, suaminya sholeh, istrinya tidak.

2 . Tipe keluarga *Firaun*, Istrinya solehah suaminya tidak.

3. Tipe keluarga *Nabi Ibrahim*, suami istri soleh dan solehah, dan anak keturunannya menjadi orang soleh.

4. Tipe keluarga *Abu Lahab*, suami dan istri sama sama durhaka.

Kemudian Ustadz bertanya: "Ibu-ibu mau seperti yang mana?"

Ibu-ibu menjawab: "Keluarga Nabi Ibrahim!!!!"

Kemudian Ustadz berkata: "Keluarga Nabi Ibrahim itu Istrinya ada 2, yaitu Siti Sarah dan Siti Hajar.
Gimana ibu ibuuu...?"

Ibu-ibu:
"KITA PULANG AJA YUUUK, CERAMAHNYA GAK ASYIK.".... 😅😅😅

Saturday, December 1, 2018

Hadist Arba'in Ke 35 : Ukhuwah dan Hak-Hak Muslim

📓📕📗📘📙📔

*ARTIKEL MALAM*

Hari/Tgl. : Selasa, 18 September 2018
                   09 Muharram 1439 H
No.           : 1262/AM/KOM/IX/2018
Materi      : Hadits
Tujuan     : KUTUBer & Umum

========= ❁❁❁❁ =========

🌾🌾🌻🌾🌾🌻🌾🌾🌻🌾🌾

🌺 Hadist Arba'in Ke 35 : Ukhuwah dan Hak-Hak Muslim

📚 Al-Wafi; Imam Nawawi; DR.Musthafa Dieb al-Bugha

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَنَاجَشُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُوْنُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَاناً . الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَكْذِبُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ . التَّقْوَى هَهُنَا –وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ – بِحَسَبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ [رواه مسلم]

Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Jangan saling menghasud, saling menipu, saling membenci, saling membelakangi, dan jangan membeli barang yang telah dibeli orang lain. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. Orang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Karena itu, tidak menzhaliminya, tidak menelantarkannya, tidak membohonginya, dan tidak melecehkannya. Takwa itu di sini, [sambil menunjuk dadanya tiga kali]. Cukuplah seseorang dikategorikan jahat jika dia menghina saudaranya sesama muslim. Darah, harta, dan kehormatan setiap muslim adalah suci terpelihara.” (HR. Muslim)

URGENSI HADITS

Rasulullah tidak hanya menegaskan bahwa ketinggian ukhuwah Islamiyah hanya sebagai slogan. Namun diiringi dengan berbagai perintah dan larangan, hingga menjadi wujud konkrit di tengah-tengah masyarakat.

Hadits ini memuat berbagai hukum dan manfaat yang besar demi terealisasinya tujuan Islam yang tinggi tersebut. Di samping juga memelihara dari segala kekurangan dan kesalahan, sehingga ukhuwah Islamiyah tidak menjadi sekedar ucapan dan hayalan yang tidak menyentuh kehidupan riil.

Sehubungan dengan urgensi hadits ini, Imam Nawawi berkata, “Alangkah besar dan banyaknya manfaat hadits ini.”
Ibnu Hajar al-Haitami berkata, “Hadits ini adalah hadits yang banyak manfaatnya. Ia menjelaskan tentang dasar-dasar penting. Bahkan jika mengamati maknanya dengan seksama, akan tampak bahwa hadits ini memuat semua hukum dan adab dalam Islam.

KANDUNGAN HADITS

1⃣  Larangan hasad.

✓ Definisi hasad

hasad adalah menginginkan agar nikmat yang dimiliki orang lain berpindah ke tangannya, atau ke tangan orang lain lagi. Ini adalah akhlak tercela.

✓ Hukumnya

para ulama sepakat bahwa hasad adalah haram. Dalil yang menunjukkan keharamannya sangat banyak, baik dari al-Qur’an maupun hadits. Di antaranya:

Firman Allah dalam rangka mencela orang-orang Yahudi:

وَدَّ كَثِيرٌ مِّنْ أَهْلِ الْكِتٰبِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِّنۢ بَعْدِ إِيمٰنِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِّنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِّنۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ

“Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri.” (QS. Al-Baqarah: 109)

Allah SWT berfirman:

أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلٰى مَآ ءَاتٰىهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِۦ

“Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia Allah yang telah diberikan kepadanya.” (QS. An-Nisaa’: 54)

Zubair bin Awam ra. berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda.: “Kalian telah ditimpa penyakit yang menimpa kaum sebelum kalian, yaitu hasad dan kebencian. Kebencian adalah tukang pangkas yang memangkas ajaran agama, dan bukan memangkas rambut. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, kalian tidak beriman hingga kalian saling menyayangi. Maukah kalian aku beritahu tentang perkara yang jika kalian lakukan, kalian dapat saling berkasih sayang? Sebarkan salam di antara kalian.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Abu Hurairah ra. berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Hati-hati terhadap hasad, karena hasad dapat melenyapkan kebaikan, sebagaimana halnya api melenyapkan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud)

Abu Hurairah ra. berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Umatku akan terkena penyakit yang menimpa umat-umat terdahulu.” Para shahabat bertanya, “Ya Rasulullah, penyakit apakah itu?” Beliau menjawab, “Bersenang-senang yang melampaui batas, sombong, bermegah-megah, berlomba-lomba dalam urusan dunia, saling membenci, saling dengki, sehingga terjadi kesewenangan dan saling menjauhi.” (HR. Hakim dan lainnya)

✓  Hikmah

Diharamkannya hasad
Sifat hasad atau dengki diharamkannya karena merupakan pembantahan terhadap Allah swt. Allah telah memberikan nikmat kepada orang lain, namun ia berusaha menghalang-halangi apa yang telah dilakukan Allah tersebut.

Abu Thayib berkata, “Penduduk bumi yang paling zhalim adalah pendengki. Ia gelisah atas nikmat yang tidak ia miliki. Di samping itu, hasad juga usaha dengan cara yang diharamkan dan hanya akan mendatangkan kesedihan.” Bahkan ia merupakan perilaku yang sangat rendah.

✓  Macam-macam pendengki.

a. Golongan yang berusaha agar nikmat yang dimiliki orang lain hilang.

Usaha ini dilakukan melalui ucapan maupun tindakan konkrit. Di antara mereka ada yang berusaha agar nikmat tersebut berpindah kepadanya, ada juga yang tidak berusaha ke arah tersebut.

b. Golongan yang tidak merefleksikan sikap hasadnya, baik dengan ucapan maupun tindakan nyata.

Menurut Hasan al-Bashri, golongan ini tidak berdosa. Golongan ini ada dua macam: yang pertama adalah yang tidak mampu menghilangkan hasad yang ada pada dirinya. Orang seperti ini tidak berdosa. Yang kedua adalah sikap hasad yang timbul dari kesadaran penuh, artinya kehadirannya dalam hati memang sengaja ditimbulkan. Meskipun demikian tidak terefleksikan dalam bentuk ucapan maupun perbuatan, tetapi ia justru berusaha untuk mendapatkan kenikmatan seperti yang telah didapatkan orang yang ia dengki. Ini sebagaimana yang disinyalir dalam ayat,

Allah SWT berfirman:

 قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا يٰلَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَآ أُوتِىَ قٰرُونُ

“Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia, ‘Andaikata kita mempunyai seperti yang telah diberikan kepada Qarun.’” (QS. Al-Qashash: 79)

Jika sikap hasad ditujukan terhadap berbagai hal yang baik, maka dibolehkan bahkan merupakan kebaikan. Rasulullah saw. bersabda: “Tidak ada hasad kecuali dalam dua hal: Terhadap seseorang yang diberikan harta dan mampu menginfakkan untuk kebaikan, siang dan malam, dan terhadap seseorang yang diberikan Al-Qur’an, lalu ia merefleksikannya sepanjang siang dan malam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

c. Golongan yang berusaha menghilangkan hasad yang ada di dalam hatinya.

Ia berusaha berbuat baik kepada orang yang ia dengki. Ia juga mendoakan agar orang tersebut senantiasa dikaruniai nikmat. Inilah derajat keimanan yang paling mulia.

★★★★

🌾🌾🌻🌾🌾🌻🌾🌾🌻🌾🌾

=============================